Udara di Dusun Penaga Landih, Desa Landih, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, masih terasa dingin menyusup. Halimun pun masih menutupi hutan saat Tribun Bali mendatangi rumah Sudika. Tampak seorang bocah perempuan manis ke luar dari rumahnya saat mendengar suara motor.
Bocah yang kemudian diketahui bernama Ni Wayan Sintia Diana Wati itu lalu memanggil ayahnya.

Ni Wayan Sintia Diana Wati (5) bersama kedua orangtuanya dan adiknya yang saat itu baru berumur 10 hari, di Desa Landih, Kintamani, Bangli.
"Bapak ada nak ngalih (bapak ada yang mencari)," begitu Sintia memanggil Sudika. Mendengar panggilan sang anak, bergegas kemudian Sudika lari ke luar. Ia tersenyum sembari berkata. "Swastyastu, nggih meriki, silakan masuk," sambutnya.
Namun, Sudika tampak bingung mempersilakan duduk di mana. Melihat ke kanan dan kiri, tiada tempat yang tersedia. Dengan rasa agak sungkan, Sudika lalu berujar, "Ampura tan wenten genah melinggih (Maaf tidak ada tempat duduk)."
Ni Wayan Sintia Diana Wati (5) yang dikatakan netizen wajahnya mirip Engeline.
Ada dua bangunan semi permanen yang berdiri di atas tanah seluas sekitar dua are tersebut. Satu bangunan dijadikan rumah tinggal, yang terdiri dari kamar tidur sekaligus dapur. Ukurannya sekitar 8x5 meter. Lantai yang terbuat dari satu lapisan batako sudah tertutup tanah. Bambu yang dirajut digunakan sebagai dinding. Sinar matahari pun sampai masuk menembus lubang-lubang rajutan bambu.
Apabila musim hujan, kata dia, airnya merembes ke dalam kamar. "Iya niki sampun, kalau panas ya kepanasan kalau hujan bocor," katanya. Di dalam kamar, ada dua ranjang kecil yang terbuat dari kayu dan bambu yang sudah lapuk. Satu untuk istrinya, Ni Wayan Setiani (23) dan anak ketiganya yang hari ini genap berusia 10 hari, I Komang Sugianta. Satunya lagi untuk dirinya.
Sementara Sintia dan adiknya Ni Kadek Apriliani (3) terpaksa menginap di rumah tetangga. "Wayan dan Kadek biasanya nginap di rumah tetangga. Masih saudara saya juga. Mau bagaimana lagi, tidak ada tempat untuk tidur lagi," kata Sudika.
Kamar tempat mereka tidur juga dijadikan dapur sehingga ada jelaga yang hitamnya melekat di dinding dan genteng rumah. Kayu bakar dan perabotan memasak pun memenuhi seisi ruangan. Ada yang digantung, ada juga yang bercereran di atas lantai. Beras yang dibungkus plastik, singkong dan sayuran berjejer di atas meja.
Jadi di kamar itu, tempat tidur, pakaian, dapur dan semua peralatannya menjadi satu. "Semuanya jadi satu. Tidur, memasak ya di sini semunya," lirih Sudika. Sementara di sebelah timur ada sebuah bangunan yang menyerupai Perapen. Bangunan itu ia jadikan tempat bekerja menempa perabotan seperti pisau, golok, sabit, cangkul, dan sebagainya.
Kendati bukan keturunan clan atau soroh Pande, namun Sudika mahir membuat dan memperbaiki berbagai jenis perabotan. "Di sana tempat saya bekerja. Untuk bertahan hidup saja. Hanya ini keahlian saya, saya tidak punya kebun jeruk atau tanah untuk berkebun. Saya dan istri hanya tamatan SD. Mau bekerja di mana susah," ucapnya.
Kerja kerasnya dalam sebulan memang menghasilkan. Kalau lagi ramai pesanan, dalam sebulan Sudika mampu mengantongi Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Namun nominal itu tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya setiap hari. Namun jika sepi, hanya sekitar Rp 100 ribu yang bisa dihasilkannya dalam sebulan. Untuk mensiasati kebutuhan sehari-hari, Sudika memprioritaskan untuk membeli beras. Sayur-sayuran ia petik dari kebun milik saudaranya.
"Bisa beli beras saja saya sudah senang. Kalau saya lagi tidak punya uang, saya akali dengan singkong. Bahkan kadang kami satu keluarga hanya makan singkong saja," tandasnya. Sudika juga tidak memiliki tempat untuk mandi, cuci, dan kakus. Untuk itu biasanya keluarganya numpang di tetangga. Terkadang, karena merasa tidak enak, ia memilih mencari air lalu mandi di belakang kamarnya tersebut.
"Air belum ada, listrik sudah. Mandinya di belakang sana sambil jongkok," ujarnya. Sudika mengaku, sampai saat ini ia tidak memiliki kartu kesehatan, baik itu JKBM ataupun Jamkesmas. Penyebabnya juga tidak ia ketahui.
Alhasil setiap keluarganya sakit, Sudika selalu kesulitan untuk mencari biaya pengobatan. "Saya tidak pernah diberikan JKBM atau Jamkesmas. Tidak pernah ada sampai saat ini," jawabnya. Saat Sintia lahir lima tahun lalu, Sudika terpaksa meminjam di sebuah koperasi di desanya sebesar Rp 2 juta untuk biaya persalinan.
Utang itu baru bisa dilunasinya lima tahun berselang tepat saat Sintia berusia lima tahun. Untuk dua anaknya yang lain, ada orang yang membantu biaya persalinan istrinya. Ia hanya diminta menunjukkan KTP dan KK. "Kalau untuk adik-adiknya Sintia, ada yang bantu. Jadi saya merasa sa
KOTAK KOMENTAR
|
|
No comments:
Post a Comment